Terima Kasih Atas Kunjungannya

Kamis, 27 Mei 2010

SISTEM PEMBELAJARAN PONDOK PESANTREN SALAF

A. Pendahuluan
Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang religius Islami dan merupakan salah satu lembaga pendidikan tertua di Indonesia. Pada awal didirikannya, pesantren tidak semata-mata ditujukan untuk memperkaya pikiran santri (murid), tetapi meninggikan moral (akhlak), melatih mempertinggi semangat, menghargai nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan, mengajarkan tingkah laku yang jujur dan bermoral, dan mempersiapkan para santri untuk hidup sederhana serta bersih hati. Setiap santri dibiasakan agar menerima etika agama di atas etika-etika lain.
Pondok pesantren memiliki karakteristik unik dari lembaga-lembaga pendidikan lainnya, dan karekateristik ini tidak dimiliki oleh lembaga pendidikan lain selain pesantren. Jika ada pun, itu hanya merupakan hasil adopsi dari lembaga pendidikan pesantren.
Keunikan lain yang dimiliki pesantren adalah dalam sistem pembelajarannya yang masih tetap mempertahankan sistem pendidikan tradisional (salaf), walaupun keberadaan tipologi pesantren pada saat ini telah mengalami perubahan, sehingga ada yang dinamakan pondok pesantren salaf dan pesantren khalaf (modern dan atau komprehensif). Akan tetapi, dengan pergeseran nama dan tipologi pesantren tersebut, pada setiap pesantren apapun tipologinya, sistem pendidikan tidak serta merta dihapuskan, paling tidak ditambah, seperti pada jenis pesantren khalaf (modern dan atau komprehensif).

B. Karakteristik Pondok Pesantren Salaf
Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan memiliki karakteristik atau ciri khas, yang tidak dimiliki oleh lembaga pendidikan lainnya. Sarijo dalam Sejarah Pesantren, (t.t. : 9) mengatakan bahwa, pesantren memiliki unsur-unsur minimal:
1) kiai yang mendidik dan mengajar;
2) santri yang belajar; dan
3) masjid.
Mujamil Qomar, (t.t.:19) menganalisa bahwa, tiga unsur pesantren ini mewarnai pesantren pada awal berdirinya atau bagi pesantren-pesantren kecil yang belum mampu mengembangkan fasilitasnya. Lebih lanjut Mujammil mengatakan, unsur pesantren dalam bentuk segitiga tersebut mendeskripsikan kegiatan belajar mengajar keislaman yang sederhana. Kemudian pesantren mengembangkan fasilitas-fasilitas belajarnya sebab tuntutan perubahan sistem pendidikan sangat mendesak serta bertambahnya santri yang belajar dari kabupaten atau propinsi lain yang membutuhkan tempat tinggal. Berkenaan dengan hal tersebut, Zamakhsyari Dhofier, (1982:44-45) mengatakan, ada lima unsur pondok pesantren yang melekat atas dirinya yang meliputi: masjid, pondok, pengajaran kitab-kitab Islam klasik, santri dan kiai.

1. Masjid
Di dunia pesantren masjid dijadikan ajang atau sentral kegiatan pendidikan Islam baik dalam pengertian modern maupun tradisional. Dalam konteks yang lebih jauh masjidlah yang menjadi pesantren pertama, tempat berlangsungnya proses belajar-mengajar adalah masjid. Dapat juga dikatakan masjid identik dengan pesantren. Seorang kiai yang ingin mengembangkan sebuah pesantren biasanya pertama-tama akan mendirikan masjid di dekat rumahnya (Zamakhsyari Dhofier, 1985:49)
Masjid memiliki fungsi ganda, selain tempat shalat dan ibadah lainnya juga tempat pengajian terutama yang masih memakai metode sorogan dan wetonan (bandongan). Posisi masjid di kalangan pesantren memiliki makna sendiri (Mujamil Qomar, t.t.:21) Menurut Abdurrahman Wahid dalam Majalah Santri (1997:51) mengatakan bahwa, masjid sebagai tempat mendidik dan menggembleng santri agar lepas dari hawa nafsu, berada di tengah-tengah komplek pesantren adalah mengikuti model wayang. Di tengah-tengah ada gunungan. Singkatnya, masjid di dunia pesantren difungsikan untuk beribadah dan tempat mendidik para santri. Juga, sebagai ciri khas lembaga pendidikan pesantren.

2. Pondok
Fenomena pondok pada pesantren merupakan sebagian dari gambaran ksederhanaan yang menjadi ciri khas dari kesederhaan santri di pesantren. Seperti ungkapan Imam Bawani, (1993:95), pondok-pondok dan asrama santri tersebut adakalanya berjejer laksana deretan kios di sebuah pasar. Di sinilah kesan kekurangteraturan, kesemerawutan dan lain-lain. Tetapi fasilitas yang amat sederhana ini tidak mengurangi semangat santri dalam mempelajari kitab-kitab klasik.
Pondok bukanlah ‘asrama’ atau ‘internaat’. Jika asrama telah disiapkan bangunannya sebelum calon penghuninya datang. Sedang pondok justtru didirikan atas dasar gotong -royong yang telah belajar di pesantren. Dari uraian Zuhri tadi, dapat dikatakan, bahwa asrama dibangun dari kalangan berada dengan persiapan dan persediaan dana yang relatif memadai, sedang pondok dibangun dari kalangan rakyat biasa yang dibangun didasarkan pada desakan kebutuhan.
Tatanan bangunan pondok pesantren menggambarkan bagaimana kiai atau wasilun (orang yang sudah mencapai pengetahuan tentang ketuhanan) berada di depan santri-santri yang masih salik (menapak jalan) mencari ilmu yang sempurna (Abdurrahman Wahid, t.t.:51), kalau dalam istilah Ki Hajar Dewantoro, bahwa komposisi bangunan pondok pesantren melambangsan posisi kiai sebagai ing ngarso sung tulodo atau dalam bahasa al-Quran dikenal dengan istilah uswatun hasanah.


3. Pengajaran kitab-kitab klasik
Kitab-kitab klasik biasanya dikenal dengan istilah kitab kuning yang terpengaruh oleh warna kertas. Kitab-kitab itu ditulis oleh ulama zaman dulu yang berisikan tentang ilmu keislaman seperti: Fiqh, hadits, tafsir maupun tentang akhlak. Ada dua esensinya seorang santri belajar kitab-kitab tersebut, di samping mendalami isi kitab maka secara tidak langsung juga mempelajari bahasa Arab sebagai bahasa kitab tersebut. Oleh karena itu seorang santri yang telah tamat belajarnya di pesantren cenderung memiliki pengetahuan bahasa Arab. Hal ini menjadi ciri seorang santri yang telah menyelesaikan studinya di pondok pesantren, yakni mampu memahami isi kitab dan sekaligus juga mampu menerapkan bahasa kita tersebut menjadi bahasanya (M. Bahri Ghazali, 2001:24)
Penggalian khazanah budaya Islam melalui kitab-kitab klasik salah satu satu unsur yang terpenting dari keberadaan sebuah pesantren dan yang membedakannya dengan lembaga pendidikan yang lainnya. Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional tidak dapat diragukan lagi berperan sebagai pusat transmisi dan desiminasi imu-ilmu keislaman, terutama yang bersifat kajian-kajian klasik. Maka pengajaran “kitab-kitab kuning” telah menjadi karakteristik yang merupakan ciri khas dari proses belajar mengajar di pesantren (Faisal Ismail, 1997:116-117)


4. Santri
Istilah santri hanya terdapat di pesantren sebagai pengejawantahan adanya peserta didik yang haus akan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh seorang kiai yang memimpin sebuah pesantren. Oleh karena itu santri pada dasarnya berkaitan erat dengan keberadaan kiai dan pesantren (M. Bahri Gahzali, 2001:22-23)
Menurut Zamakhsyari Dhofier, (1985:51-52) di dalam proses belajar mengajar di pesantren santri terbagi atas dua tipe, yaitu:

1) Santri Mukim
Santri mukim yaitu santri yang menetap, tinggal bersama kiai dan secara aktif menuntut ilmu dari seorang kiai. Dapat juga sebagai pengurus pesantren yang ikut bertanggung jawab atas keberadaan santri lain. Menurut Nurcholis Madjid, (1997:52) santri mukim ialah santri yang berasal dari daerah yang jauh dan menetap dalam pondok pesantren.
Menurut Zamakhsyari, (1985:51) ada dua motif seorang santri menetap sebagai santri mukim, yaitu:
­ Motif menuntut ilmu; artinya santri itu datang dengan maksud menuntut ilmu dari kiainya.
­ Motif menjunjung tinggi akhlak; artinya seorang santri belajar secara tidak langsung agar santri tersebut setelah di pesantren akan memiliki akhlak terpuji sesuai dengan akhlak kiainya.
2) Santri kalong
Santri kalong pada dasarnya adalah seorang murid yang berasal dari desa sekitar pondok pesantren yang pola belajarnya tidak dengan jalan menetap di dalam pesantren, melainkan semata-mata belajar dan secara langsung pulang ke rumah setelah belajar di pesantren (Zamakhsyari, 1985:52) Sejalan dengan Zamakhsyari, Nurcholis Madjid, 1997:52) mengatakan bahwa santri kalong ialah santri yang berasal dari daerah-daerah sekitar pesantren dan biasanya mereka tidak menetap dalam pesantren. Mereka pulah ke rumah masing-masing setiap selesai mengikuti suatu pelajaran di pesantren.
Sebuah pesantren yang besar didukung oleh semakin banyaknya santri yang mukim dalam pesantren di samping terdapat pula santri kalong yang tidak banyak jumlahnya (M. Bahri Ghazali, 2001:23).


5. Kiai
Kiai di samping pendidik dan pengajar, juga pemegang kendali manjerial pesantren. Bentuk pesantren yang bermacam-macam adalah pantulan dari kecenderungan kiai. Kiai memiliki sebutan yang berbeda-beda tergantung daerah tempat tinggalnya (Mujamil Qomar, t.t.:20) Ali Maschan Moesa, (1999:60) mencatat: di Jawa disebut Kiai, di Sunda disebut Ajengan, di Aceh disebut Teungku, di Sumatera/Tapanuli disebut Syaikh, di Minangkabau disebut Buya, di Nusa Tenggara, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah disebut Tuan Guru.
Chozin Nasuha dalam Marzuki Wahid, Suwendi dan Saefudin Zuhri, (1999:264) Kiai disebut alim bila ia benar-benar memahami, mengamalkan dan memfatwakan kitab kuning. Kiai demikian ini menjadi panutan bagi santri pesantren, bahkan bagi masyarakat Islam secara luas. Akan tetapi dalam konteks kelangsungan pesantren kiai dapat dilihat dari berbagai perspektif lainnya. Muhammad Tholchah Hasan, (1997:20) melihat kiai dari empat sisi yakni kepemimpinan ilmiah, spiritualitas, sosial, dan administrasi. Jadi ada beberapa kemampuan yang mestinya terpadu pada pribadi kiai dalam kapasitasnya sebagai pengasuh dan pembimbing santri (Mujamil Qomar, t.t:20)

C. Sistem Pendidikan Pondok Pesantren Salaf
1. Sorogan
Sistem dan pengajaran dengan pola sorogan dilaksanakan dengan jalan santri yang biasanya pandai menyorogkan sebuah kitab kepada kiai untuk dibaca di hadapan kiai itu. Dan kalau ada salahnya, kesalahan itu langsung dibetulkan oleh kiai itu. Di pesantren besar sorogan dilakukan oleh dua atau tiga orang santri saja, yang biasa terdiri dari keluarga kiai atau santri-santri yang diharapkan kemudian hari menjadi orang alim (Djaelani, 1980:54).
Metode sorogan merupakan sistem metode yang ditempuh dengan cara guru menyampaikan pelajaran kepada santri secara individual, biasanya di samping di pesantren juga dilangsungkan di langgar, masjid atau terkadang malah di rumah-rumah. Di pesantren, sasaran metode ini adalah kelompok santri pada tingkat rendah yaitu mereka yang baru menguasai pembacaan al-Quran. Melalui sorogan, perkembangan intelektual santri dapat ditangkap kiai secara utuh. Dia dapat memberikan tekanan pengajaran kepada santri-santri tertentu atas dasar observasi langsung terhadap tingkat kemampuan dasar dan kapasitas mereka. Sebaliknya, penerapan metode sorogan menuntut kesabaran dan keuletan pengajar. Santri dituntut memiliki disiplin tinggi. Di samping aplikasi metode ini membutuhkan waktu lama, yang berarti kurang efektif dan efesien (Zamakhsyari Dhofier, 1984:28).

2. Wetonan atau Bandongan
Metode wetonan atau bandongan adalah metode yang paling utama di lingkungan pesantren. Metode wetonan (bandongan) ialah suatu metode pengajaran dengan cara guru membaca, menterjemahkan, menerangkan dan menulis buku – buku Islam dalam bahasa Arab sedang sekelompok santri mendengarkan.mereka memperhatikan bukunya sendiri dan membuat catatan–catatan (baik arti maupun keterangan ) tentang kata–kata atau buah pikiran yang sulit (Zamakhsyari Dhofier, 1984:28).
Penerapan metode tersebut mengakibatkan santri bersikap pasif. Sebab kreativitas dalam proses belajar mengajar didominasi ustadz atau kiai, sementara santri hanya mendengarkan dan memperhatikan keterangannya. Dengan kata lain, santri tidak dilatih mengekspresikan daya kritisnya guna mencermati suatu pendapat. Wetonan dalam prakteknya selalu berorentasi pada pemompaan materi tanpa melalui kontrol tujuan yang tegas. Dalam metode ini, santri bebas mengikuti pelajaran karena tidak diabsen. Kiai sendiri mungkin tidak mengetahui santri–santri yang tidak mengikuti pelajaran terutama jumlah mereka puluhan atau bahkan ratusan orang. Ada peluang bagi sanrti untuk tidak mengikuti pelajaran. Sedangkan santri yang mengikuti pelajaran melalui wetonan ini adalah mereka yang berada pada tingkat menengah (Menurut Mujamil Qomar, t.t.:143).
Metode sorogan dan wetonan sama-sama memiliki ciri pemahaman yang sangat kuat pada pemahaman tekstual atau literal (Husein Muhammad, 1999:281) Akan tetapi, bukan berarti metode sorogani dan bandongan tidak memiliki kelebihan sama sekali. Ada hal-hal tertentu yang dirasakan sebagai kelebihannya.
Ismail SM, (2002:54) merasakan bahwa metode sorogan secara didaktik-metodik terbukti memiliki efektivitas dan signifikansi yang tinggi dalam mencapai hasil belajar. Sebab metode ini memungkinkan kiai/ustadz mengawasi, menilai, dan membimbing secara maksimal kemampuan santri dalam menguasai materi. Sedangkan efektivitas metode bandongan terletak pada pencapaian kuantitas dan percepatan kajian kitab, selain juga untuk tujuan kedekatan relasi santri-kiai/ustadz.
Kedua metode tersebut sebenarnya merupakan konsekuesi logis dari layanan yang sebesar-besarnya kepada santri. Berbagai usaha pembaharuan dewasa ini dilakukan justru mengarah pada layanan secara individual kepada peserta didik. Metode sorogan justeru mengutamakan kematangan dan perhatian serta kecakapan seseorang. Adapun dalam bandongan, para santri memperoleh kesempatan untuk bertanya atau meminta penjelasan lebih lanjut atas keterangan kiai. Sementara catatan-catatan yang dibuat santri di atas kitabnya membantu untuk melakukan telaah atau mempelajari lebih lanjut isi kitab tersebut setelah pelajaran selesai.
Dalam dunia pesantren, santri yang cerdas dan memiliki kelebihan, dan mendapat perhatian istimewa dan didorong secara pribadi oleh kiai secukupnya. Semua santri mendapat perhatian yang seksama dari kiai. Tingkah laku moralnya secara teliti diperhatikan. Santri diperlakukan sebagai makhluk terhormat, sebagai titipan Tuhan yang harus disanjung. Kepada santri ditanamkan perasaan tanggung jawab untuk melestarikan dan menyebarkan pengetahuan mereka tentang Islam kepada orang lain, mencurahkan waktu dan tenaga untuk belajar terus-menerus sepanjang hidup, dan mengamalkan ilmu merupakan kewajiban dan ibadah. Kepandaian berpidato dan berdebat dikembangkan untuk melatih daya kritis dan kreatif pada santri.
Untuk lebih mengembangkan pengetahuan para santri dan sebagai evaluasi keberhasilan santri, maka santri yang dianggap sudah senior atau memiliki pengetahuan yang memadai diangkat oleh kiai sebagai badal (pengganti) jika kiainya berhalangan.
Di beberapa pesantren santri yang memiliki kelebihan potensi intelektual (santri senior) sekaligus merangkap tugas mengajar santri-santri yunior. Santri ini memiliki kebiasaan-kebiasaan tertentu. “Santari-santri memberikan penghormatan yang berlebihan kepada kiainya”. Perbuatan seperti ini di dunia pesantren merupakan konsekuensi cerminan santri yang memiliki pengetahuan tinggi, dia harus memiliki etika dan akhlak yang lebih baik dari pada santri-santri yunior, karena mereka merupakan suri tauladan setelah kiai.

D. Penutup
Sebagai rangkaian akhir dari pembahasan makalah ini, penulis akan menyampaikan sebuah keyakinan kepada pembaca, bahwa pesantren telah membuktikan dirinya sebagai lembaga pendidikan yang telah banyak mencetak kader bangsa yang berilmu dan berakhlak mulia. Namun, saat ini ada sebuah gejala di masyarakat luas, yaitu gejala menjauhi pendidikan yang berbasis agama, semuanya berkiblat ke Barat. Hal ini disebabkan oleh faham materialistik yang ada di masyarakat. Oleh karena itu, pesantren mulai ditinggalkan, dan yang kejar adalah lembaga pendidikan yang menjanjikan lulusannya cepat mendapatkan uang. Akibatnya, banyak sekarang orang pintar tapi miskin moral. Sudah saatnya masyarakat untuk kembali kepada moral dengan mempercayakan pendidikannya kepada dunia pesantren.

DAFTAR PUSTAKA

Bawani, Imam. 1993. Tradisionalisme dalam Pendidikan Islam Studi Tentang Daya Tahan Pesantren Tradisional. Surabaya: Al-Ikhlas.

Dhofier, Zamakhsyari, 1985, Tradisi Pesantren Studi Tentang Pandangan Hidup,Jakarta: LP3ES.

Fathurrahman, Pupuh, 2000, Keunggulan Pendidikan Pesantren; Alternatif Sistem Pendidikan Terpadu Abads XXI, Bandung: Tunas Nusantra.

Ghazali, Bahri, M., Dr., MA., 2001, Pendidikan Pesantren Berwawasan Lingkungan, Jakarta: Pedoman Ilmu.

Hasan, Muhammad Tolhah. 1996. “Pondok Pesantren dan Sistem Pendidikan Nasional”, Santri, No. 03, Agustus.

Hasbullah. 1995. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia Lintasan Sejarah Pertumbuhan bdan Perkembangan. Jakarta: LISK.

Moesa, Ali Maschan. 1999. Kiai dan Politik dalam wacana Civil Society. Surabaya: LEPKISS.

Qomar, Mujamil, Prof., Dr., M.Ag., t.t., Pesantren dari Transformasi Metodologi Menuju Demokratisasi Institusi, Jakarta: Erlangga.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar